SEJARAH BERDIRINYA DESA MULYASRI
Napak Tilas Desa Mulyasri
Kisah perjalanan panjang terbentuknya Desa Mulyasri, terangkum dalam suka - cita dan suka - duka. Menjadi kenangan yang tak terlupakan sepanjang zaman bagi penggagas lahirnya Desa Mulyasri, dan generasi penerus, serta segenap Masyarakat Desa Mulyasri.
Semuanya telah menjadi hikmah yang dapat dipetik sebagai pelajaran dan manfaat yang tak ternilai harganya, guna membangun Desa Mulyasri kedepan yang lebih baik. Selayang Pandang kronologis perjalanan panjang Sejarah Napak Tilas Desa Mulyasri dapat diuraikan sebagai berikut:
Dikala itu, jam 11:00 Wita (Siang) hari Kamis Manis (dalam penanggalan jawa) tanggal 09 September 1939, rombongan Masyarakat dari Pulau Jawa yang dipimpin oleh Mantri Koloni bernama Raden Sugeng datang di Daerah ini (sekarang wilayah Desa Mulyasri). Dikarenakan saat itu Negara Kesatuan Republik Indonesia belum terbentuk, maka perpindahan Penduduk dari satu Wilayah ke Wilayah lain atau dari satu Pulau ke Pulau lain bukanlah disebut dengan Program Transmigrasi yang seperti apa yang kita kenal saat ini, melainkan saat itu orang menyebutnya dengan istilah Trans Kolonialisasi.
Merajut harapan, menitih hidup dan kehidupan di Daerah atau Wilayah baru, dengan kemampuan dan fasilitas yang sangat terbatas, tentulah bukan persoalan yang mudah. Namun berangkat dengan kemauan yang kuat dan semangat heroisme (perjuangan) yang tak pernah surut untuk suatu perubahan yang lebih baik maka tak lama setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan dan Negara Indonesia telah mencapai Kemerdekaan, maka dengan itu pula lah Eyang Atmo Sarjono ditetapkan sebagai Kepala Desa Pertama Desa Mulyasri dan namanya diabadikan sebagai nama Lapangan Desa Mulyasri yaitu Lapangan Sarjono Mulyasri. Beliaulah Peletak Batu Pertama (mile stone) dalam perjalanan panjang menuju masa depan Desa Mulyasri.
Memimpin suatu Desa yang sangat amat luas yang wilayahnya membentang sampai ujung timur yang saat ini sudah berubah menjadi Desa Cendana Hitam Timur Kecamatan Tomoni Timur Kabupaten Luwu Timur, yang terdiri dari semak belukar, hutan belantara, yang dihuni oleh berbagai jenis binatang buas dan situasi kamtibmas yang kurang kondusif, tentu sangat mengganggu dan menghambat program pembangunan. Terlebih kejadian atau peristiwa Karang Abang dikisaran tahun 1958 s/d 1959, akibat aksi dari para gerombolan pemberontak yang membumi hanguskan banyak tempat, dimana hampir seluruh kawasan ini (wilayah Desa Mulyasri) sangat mencekam dan memprihatinkan memaksa pendahulu kita untuk pergi meninggalkan kampung dan mencari tempat berlindung yang lebih aman.
Selanjutnya tak lama berselang, setelah dirasakan situasi dan keamanan telah kondusif, maka mereka (para pendahulu) kembali ke kampung dengan berjuta asa kembali bergelora pada setiap warga untuk mewujudkan harapan dan cita - cita, akan tetapi harapan dan cita - cita tersebut kembali tertunda akibat adanya kekacauan yang diakibatkan oleh peristiwa berdarah yang kita kenal sebagai Peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G 30 S 65) yang didalangi oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). Semua rentetan peristiwa - peristiwa pahit itu ternyata tidak mengendorkan semangat apalagi merupah niat justru menjadi suplemen penambah daya juang para pendahulu kita.
Walhasil, seiring dengan perputaran waktu, dan perkembangan zaman, situasi keamanan mulai stabil, sosial budaya berjalan, ekonomi dan politik kian membaik sehingga roda pembangunan bisa berputar serta berjalan sesuai dengan harapan yang direncanakan, maka demi untuk meningkatkan kualitas pelayanan masyarakat dan demi untuk percepatan pembangunan, maka dikisaran tahun 1987 wilayah Desa Mulyasri dimekarkan sehingga lahirlah atau berdirilah Desa Purwosari. Dengan latar belakang pertimbangan yang serupa, maka pada kisaran tahun 1991 wilayah Desa Mulyasri dimekarkan kembali sehingga lahirlah atau berdirilah Desa Lestari. Dan dikisaran tahun 1998 serta atas dasar pertimbangan yang sama maka wilayah Desa Mulyasri dimekarkan lagi maka lahirlah atau berdirilah Desa Bangun Jaya.
Dalam proses perjalanan panjang sejarah Desa Mulyasri, sampai saat ini telah tercatat 1 (satu) Mantri Koloni dan 12 (dua belas) Pemimpin / Kepala Desa Definitif Desa Mulyasri dan beliau - beliau adalah sebagai berikut :
- RADEN SUGENG (Matri Koloni)
- Bpk. ATMO SARJONO (Kepala Desa Pertama)
- Bpk. MBALAK (Kepala Desa Kedua)
- Bpk. BAJURI (Kepala Desa Ketiga)
- Bpk. SASTRO DARSONO (Kepala Desa Keempat)
- Bpk. SALIMAN SIBUN (Kepala Desa Kelima)
- Bpk. NGALI (Kepala Desa Keenam)
- Bpk. AHMAD KUSNO (Kepala Desa Ketujuh)
- Bpk. MISWADI (Kepala Desa Kedelapan)
- Bpk. ABDUL SANDIM (Kepala Desa Kesembilan)
- Bpk. SUJATI (Kepala Desa Kesepuluh)
- Bpk. ABDUL SANDIM (Kepala Desa Kesebelas)
- Bpk. SLAMET RIYADI (Kepala Desa Saat Ini)








0 Comments:
Posting Komentar